Kamis, 06 Desember 2012

Resensi Buku ESQ




Menggambarkan dan Menjelaskan Rasionalitas Duniawi dan Spirit Ketuhanan

Penulis        :           Ary Ginanjar Agustian
Penerbit      :           ARGA Publishing, Jakarta 2001
Tebal           :           450 halaman

Membaca buku ini, seperti menguak tabir rahasia tentang adanya korelasi yang sangat kuat antara dunia usaha, profesionalisme dan manajemen modern, dalam hubungannya dengan intisari Islam, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam Pemahaman dan pendalaman kedua unsur inti ini, telah melahirkan sebuah pemikiran baru yang segar yang dinamakan ESQ atau Kecerdasan Emosi dan Spiritual.

            Penulis buku ini, Ary Ginanjar, adalah seorang pengusaha muda yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal mengenai keagamaan atau psikologi. Ia mendalami bidang keagamaan dengan mandiri melalui metode “kemerdekaan berpikir”. Ia merupakan seorang otodidak yang belajar langsung di lapangan dan dalam ketatnya persaingan dunia usaha yang sangat kompetetif dan penuh tantangan. Perjalanan panjang dan berliku telah mengubah sesuatu yang ada dalam hidup penulis.

Berawal dari kegalauan dan kegelisahannya pada masa SMP, yang tidak termotivasi lagi untuk belajar akibat dari sebuah pertanyaan – pertanyaan yang timbul dalam benaknya “ Untuk apa saya belajar ? “ dan bahkan lebih jauh lagi “Untuk apa saya hidup ?” pertanyaan itu sangat halus dan lembut, hingga timbul tenggelam dalam perjalanannya. Prestasinya kian menurun karena tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Masa SMA adalah sebuah kegelisahan baginya, sehingga ia menjadi “pemberontak” sejati. Namun ia justru tersiksa karena tak kunjung menemukan jawaban. Akan tetapi, berkat kegigihannya untuk terus mencoba – coba memberi makna akan arti hidup, siapa sangka dia telah menjadi orang yang gagah.

Kemampuannya dalam bidang pelatihan sumber daya manusia telah sangat teruji di berbagai trainnig, dimana ia tampil sebagai trainer utama dalam Training ESQ. ESQ adalah sebuah icon, dan Ary Ginanjar telah mengenalkan paradigma baru dalam bidang SDM yang menyinergikan science, sufisme, psikologi dan manajemen dalam satu kesatuan yang terintegrasi dan transedental dalam konsep ESQ Way 165. 

ESQ adalah sebuah konsep yang mengarahkan kita pada kebahagiaan dan kesuksesan dunia yang beracu pada akhirat. Sebagai umat manusia, kita harus menyeimbangkan kehidupan kita antara dunia dan akhirat. Pada The ESQ Way 165, semua tentang bagaimana kita memperoleh cara hidup yang sehat dan cara berpikir yang tepat yang sesuai dengan koridor agama islam telah dijelaskan secara mendetail. Dengan disertai dengan penerapan-penerapan pada kehidupan berbisnis, buku The ESQ Way 165 memang telah menarik minat masyarakat luas. Dengan meluasnya buku The ESQ Way 165, masyarakat luas, terutama golongan pengusaha mengerti sedikit banyak tentang konsep ESQ. dan hal ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan bagi pengusaha tersebut seputar masalah dikehidupan mereka dengan penyelesaian menggunakan konsep ESQ.

Ini adalah latar belakang diciptakannya buku Mengapa ESQ oleh Ary Ginanjar Agustian ini. Dengan masih berdasar pada buku sebelumnya, yaitu The ESQ Way 165 buku ini juga menjawab berbagai pertanyaan dari masyarakat terutama para pengusaha untuk menyelesaikan masalah mereka dengan metode ESQ.
Dalam buku ini, Ary berusaha menggabungkan Emotional Intelligence (EQ) yang didasari dengan hubungan antara manusia dengan Tuhannya (SQ), sehingga menghasilkan ESQ : Emosional Spiritual Quotient. Ary Ginanjar memaparkan pemikirannya melalui sebuah ESQ model, yang menggambarkan seluruh pemahaman dan fenomena secara komprehensif. Bermula dari titik fitrah, berlanjut kepada pembangunan prinsip hidup yang membangun mental, hingga ketangguhan sosial yang dirangkumkan secara berintegrasi.

            Buku ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing memaparkan mengenai unsur-unsur yang terdapat pada ESQ Model. Pada bagian satu (Zero Mind Process-Penjernihan Emosi), penulis mengharapkan pembaca dapat berpikir secara jernih terlepas dari belenggu pemikiran yang selama ini menghalangi kecerdasan emosi manusia. Hasil dari penjernihan emosi ini dinamakan “God-Spot atau fitrah.”. Suara hati manusia adalah kunci spiritual, karena ia adalah pancaran sifat – sifat illahi (surah Al Hasyr ayat 22 – 24)

            Pada bagian dua ( Mental Building), Ary Ginanjar menjelaskan tentang arti pentingnya alam pikiran. Di tahap inpenulis menjabarkan mengenai cara membangun alam berpikir dan emosi secara sistematis berdasarkan Rukun Iman yang diperkenalkan dengan istilah Enam Prinsip, yaitu:

Star Principle
 
Star Principle ( Prinsip bintang ) sebagai pegangan hidup bergantung pada kepercayaan/keimanan kepada Allah. Dengan bertauhid maka akan tercipta kepemilikan rasa aman intrinsik, kepercayaan diri yang tinggi, integritas yang kuat, kebijaksanaan, dan motivasi yang tinggi. Semua itu dilandasi oleh iman, dan dibangun dengan berprinsip hanya kepada Allah, serta memuliakan dan menjaga sifat Allah pada diri manusia.

Angle Principle
 
Angle Principle ( Prinsip Matahari ) Iman kepada Malaikat. Memiliki Angel Principle menjadikan pribadi seseorang memiliki tingkat loyalitas tinggi, komitmen yang kuat, memiliki kebiasaan untuk mangawali dan memberi, suka menolong dan memiliki sikap saling percaya.

Leadership Principle

Prinsip Kepemimpinan (Iman kepada Nabi dan Rasul). Semua orang adalah pemimpin, bahkan setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Pemimpin sejati adalah seseorang yang selalu mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai. Memiliki integritas yang kuat, sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya. Selalu membimbing dan mengajari pengikutnya. Memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten. Dan yang penting adalah memimpin berlandaskan suara hati yang fitrah.

Learning Principle
 
Prinsip Pembelajaran (Iman kepada Al Quran) menyadari akan pentingnya pembelajaran yang akan mendorong pada kemajuan. Memiliki kebiasaaan membaca buku dan membaca situasi dengan cermat menghasilkan sesorang dapat berfikir kritis dan mendalam. Selalu mengevaluasi pemikirannya kembali. Bersikap terbuka untuk mengadakan penyempurnaan. Memiliki pedoman yang kuat dalam belajar, yaitu berpegang kepada Al – Quran.

Vision Principle
 
Prinsip Masa Depan (Iman kepada Hari Kemudian). Selalu berorientasi pada tujuan akhir disetiap langkah yang dibuat dapat membuat seseorang mengoptimalkan setiap langkahnya dengan sungguh – sungguh, dan yakin akan adanya Hari Kemudian, sehingga memiliki kendali diri dan sosial, memilki kepastian akan masa depan, dan ketenangan batinia yang tinggi.

Well Organized Principle

Langkah awal Prinsip Keteraturan (Iman kepada Ketentuan Allah) adalah memulainya dengan visi atau tujuan, melanjutkannya dengan langkah untuk melalui berbagai proses dan tidak meragukan suara hati sehingga tercipta sistem mental (EQ) dalam ketauhidan.  

Pada bagian tiga (Personal Strength–Ketangguhan Pribadi), berisi mengenai penjabaran mengenai tiga langkah pengasahan hati yang dilaksanakan secara berurutan dan sangat sistematis berdasarkan Rukun Islam. Langkah ini dimulai dengan Mission Statement (Dua Kalimat Syahadat), dilanjutkan dengan Character Building (Shalat 5 Waktu) dan diakhiri dengan Self Controlling (Puasa). Dengan melakukan ketiga langkah ini, pembaca diharapkan dapat memiliki ketangguhan pribadi. Menurut penulis, ketangguhan pribadi perlu diimbangi dengan ketangguhan sosial yang dapat diwujudkan dengan pembentukan dan pelatihan untuk melakukan sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya. Pelatihan yang diberikan dinamakan Strategic Collaboration atau Langkah Sinergi (Zakat) dan Total Action atau Langkah Aplikasi Total (Haji).
Inti dari buku ini adalah untuk menjadi seorang yang sukses, tidak hanya dibutuhkan intelegensi yang tinggi tapi juga kecerdasan emosi yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antar manusia semata tapi juga didasarkan pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Buku ini mensinergikan kebenaran ajaran Islam dengan penemuan ilmiah dan teori-teori dari para pakar ilmu pengetahun di “Barat”, khususnya ilmuwan di bidang EQ atau kecerdasanemosi.

            Dalam buku ini penulis seakan memberikan sebuah pemikiran yang sangat  inovatif. Dan banyak memberikan pencerahan , serta kemudahan dalam melakukan transformasi keislaman dari sebuah gagasan. Gaya bahasa yang digunakan penulis sangat bagus, mudah dicerna, menarik serta tidak membosankan para pembaca. Namun penulis kurang mengeksplorasi secara serius bagaimana konsep trilogi iman, Islam, dan ihsan dalam pemahaman Islam, ini cukup mengganggu karena seluruh isi bukunya berangkat dari hal tersebut.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

0 komentar:

Poskan Komentar